ALUMNI FISIPOL UGM
Terhubung dengan kami
Drs. Soeprapto, SU; Berdayakan Mahasiswa dengan Sistem BUAS

Nama Drs. Soeprapto, SU, mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar mahasiswa Fisipol UGM. Benar, Soeparapto merupakan salah seorang dosen Departemen Sosiologi yang cukup terkenal di kalangan mahasiswa. Hal ini tentunya bukan tanpa sebab, Soeprapto dikenal karena sistem mengajarnya yang cukup berbeda, yakni dengan sistem Bebas Ujian Akhir Semester (BUAS).

            Ditemui di gedung BA 307 F Fisipol UGM pada 20 September 2018, dosen kelahiran Indramayu, 21 Mei 1956 ini menceritakan mengenai sistem BUAS miliknya tersebut. Berangkat dari pengalaman mengajarnya, Soeprapto mengkategorikan 4 macam kemampuan mahasiswa. Keempat tersebut adalah mahasiswa mampu tulis dan mampu lisan, mahasiswa mampu tulis namun tidak mampu lisan, mahasiswa mampu lisan namun tidak mampu tulis, dan mahasiswa yang tidak mampu lisan dan tulis.

            “Saya memiliki pemikiran bahwa keempatnya merupakan tanggung jawan dosen atau institusi, kita punya tugas untuk memberdayakan mereka, oleh karena itu saya memberikan tawaran ini kepada mahasiswa,” kata Soeprapto.

            Mahasiswa diberi kebebasan untuk memilih tugas yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Mahasiswa yang mampu tulis dan lisan diperbolehkan mengumpulkan tugas berupa paper, makalah, atau diskusi kelas. Untuk mahasiswa yang mampu tulis maka dibebaskan untuk menulis seperti dalam bentuk paper atau resume. Mahasiswa yang mampu lisan diberikan wadah berupa diskusi kelas, sedangkan, mahasiswa yang tidak mampu keduanya dipersilakan untuk mengumpulkan tugas dalam bentuk kliping.

            “Ketika mereka memilih tema dari penugasan, setidaknya mereka menyimak materi kuliah saya, karena tema yang dipilih untuk penugasan harus relevan dengan mata kuliah saya,” jelas Soeprapto.

Soeprapto kemudian memberikan penghargaan kepada mahasiswa yang dianggap aktif. Jika mahasiswa berhasil mendapatkan nilai minimal 7,75 sebanyak 5 pada penugasan yang mereka kumpulkan, maka mahasiswa akan dinyatakan BUAS. Mahasiswa yang dinyatakan BUAS otomatis akan mendapatkan nilai A pada mata kuliah tersebut. Selain penugasan, terdapat kriteria lain untuk bisa dinyatakan BUAS, yakni, harus mengikuti Ujian Tengah Semester dengan nilai minimal 7,75 dan jumlah kehadiran minimal 75%.

            Soeprapto mengaku sudah mengembangkan sistem ini sejak belum dikenal adanya penugasan dalam proses mengajar di perkuliahan. Pada tahun 1986, Soeprapto berhasil memenangkan hibah inovasi pembelajaran yang diadakan oleh Ristekdikti. Saat Soeprapto mempraktikan sistem BUAS di kelas, terdapat tim reviewer yang menilai sistem tersebut. Penelitian tersebut kemudian menunjukkan bahwa mahasiswa yang tidak mampu tulis dan lisan yang sebelumnya dianggap tidak dapat berprestasi, indeks prestasinya kemudian semakin meningkat, sehingga Soeprapto dinyatakan boleh menggunakan sistem tersebut dalam proses mengajarnya.

            “Jadi melalui BUAS saya berusaha untuk memberdayakan mahasiswa dan sampai saat ini isu pemberdaayan tersebut masih saya kembangkan terus,” kata Soeprapto.

            Sistem penugasan dalam BUAS bersifat sukarela dan tidak diwajibkan bagi mahasiswa. Jika mahasiswa tidak ingin mengerjakan tugas maka dipersilakan mengikuti Ujian Akhir Semester dengan konsekuensi nilai yang diperoleh bisa dalam rentang A sampai E. Soeprapto mengaku respon mahasiswa pun beragam, ada yang aktif mengumpukan dan ada pula yang tidak mengumpulkan.

            Dalam mengajar, Soeprapto memiliki bidang minat pada kriminalitas dan sosiologi hukum. Ketertarikan tersebut berawal dari pengalaman Soeprapto di masa kecil yang sering kali melihat banyak perkelahian dan membuatnya bertanya-tanya mengapa orang menyukai konflik. Menurut Soeprapto, perilaku menyimpang akan selalu ada, sehingga kriminalitas dan sosiologi hukum harus terus dipelajari. Terlebih saat ini, dimana kasus penyalahgunaan teknologi semakin marak terjadi.

            Selain berprofesi sebagai dosen, Soeprapto yang sudah dikaruniai 3 orang anak ini juga terus mengembangkan hobinya dalam bidang otomotif. Hobinya tersebut disalurkan dengan mengoleksi mobil-mobil yang terbilang sudah cukup tua. Soeprapto juga memiliki sebuah sanggar tari dan modeling yakni Sanggar Betema (Berkat Tekad Bersama).

            Kepada mahasiswa Soeprapto berpesan dua hal. Pertama, Soeprapto berpesan untuk jangan patah semangat dengan kondisi apapun yang sedang dihadapi saat ini. Menurut Soeprapto, setiap orang pasti memiliki kelemahan dan kelebihan, manfaatkan kelebihannya dan bangunlah kelemahannya untuk bisa dihindari.

“Kedua, selagi masih belajar, sukai semua yang dipelajari, jika nanti sudah lulus maka boleh mulai mempelajari yang disukai,” kata Soeprapto. (hsn).