ALUMNI FISIPOL UGM
Terhubung dengan kami
Dr. Hempri Suyatna; Membela Rakyat Kecil Melalui Ekonomi Kerakyatan

Jumat (14/09/18), Tim Warta Alumni berkesempatan menemui salah seorang dosen Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK). Ditemui di Fisipol UGM, Dr. Hempri Suyatna, S. Sos, M.Si, menyambut kami dengan ramah. Laki-laki kelahiran Sleman, 8 Juli 1978 ini dikenal sebagai sosok yang aktif membela rakyat kecil.

Hempri yang berprofesi sebagai dosen di UGM sejak tahun 2005 juga cukup aktif di berbagai tempat. Hempri menjabat sebagai Sekretaris di Kafisipolgama DIY selama dua periode. Hempri juga aktif di Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan dan menjadi Kepala Pusat Studi Kajian Pembangunan di Social Development Studies Centre (SODEC) Fisipol UGM. Selain menggeluti bidang akademik, Hempri juga banyak berkecimpung dalam berbagai organisasi sosial keagamaan.

Doktor yang berasal dari Sleman ini merupakan seorang dosen yang berfokus pada isu ekonomi kerakyatan. Bagi Hempri, ekonomi kerakyatan merupakan isu penting yang banyak diperbincangkan, namun implementasinya dianggap masih kurang baik. Isu-isu dalam ekonomi kerakyatan sendiri sangatlah luas mulai dari isu demokrasi ekonomi hingga isu kemiskinan dan sociopreneur.

Hempri mengatakan bahwa cita-cita Indonesia untuk mewujudkan demokrasi ekonomi masih jauh dari realitas. Salah satu contohnya adalah isu kemiskinan yang masih menjadi persoalan serius hingga saat ini.

“Butuh aksi-aksi nyata untuk mendorong yang miskin itu kemudian bisa berdaya, yang tidakmemiliki akses itu kemudian bisa punya akses, gerakan-gerakan yang mendorong isu-isu ekonomi kerakyatan ini kemudian menjadi semakin penting,” kata Hempri.

Dalam memandang keadaan perekonomian rakyat saat ini, Hempri menganggap ekonomi kerakyatan semakin tergerus dengan ekonomi kapitalisme. Hal ini terlihat dari semakin masifnya toko modernberjejaring yang menggusur warung rakyat dan pasar tradisional. Ditambah lagi dengan kebiasaan anak muda yang lebih banyak memilih untuk pergi ke toko modernberjejaring dibanding ke warung-warung rakyat. Padahal, menurut Hempri, untuk ikut membantu memberdayakan rakyat kecil harus dimulai dari diri sendiri.

Hempri memiliki prinsipnya tersendiri untuk membela rakyat kecil yang terbilang cukup unik, yakni belanja di warung tetangga. Konsep ini Hempri terapkan dengan selalu belanja di warung-warung kecil. Hempri berusaha untuk seminimal mungkin tidak belanja di toko modernberjejaring.

“Ini menjadi komitmen saya untuk mendukung kemajuan ekonomi rakyat, jadi sebisa mungkin saya tidak membeli produk kapitalis yang diproduksi korporasi multinasional, tetapi saya lebih memilih membeli produk dalam negeri,” jelas Hempri.  

Selanjutnya, Hempri juga beranggapan bahwa masih banyak paradoks-paradoks kebijakan di Indonesia. Hal ini terlihat dari sikap berbagai pihak yang ikut membela ekonomi kerakyatan namun masih banyak membeli produk luar negeri. Menurut Hempri, salah satu hal yang berpengaruh dalam membangun gerakan ini adalah mentalitas bangsa. Meskipun perekonomian Indonesia maju, namun, ideologi masyarakat yang berpihak pada rakyat kecil masih sangat kurang.

“Kita semakin maju dan berkembang tetapi lupa membangun ideologi anak-anak untuk berpihak kepada rakyat kecil,” kata Hempri.

Dalam usahanya memperjuangkan rakyat kecil, Hempri juga sudah melakukan berbagai hal. Salah satunya adalah berbagi advokasi penolakan toko modern di daerah Maguwoharjo, Sleman. Advokasi ini kemudian berhasil mengagalkan pembangunan toko modern yang sebelumnya akan dibangun di salah satu dusun di Maguwoharjo yang memang tidak sesuai dengan Peraturan Daerah yang berlaku.

Menurut Hempri, terdapat beberapa tantangan dalam mewujudkan keberpihakan kepada rakyat kecil. Pertama adalah mindset yang berbeda-beda baik dari pihak birokrasi maupun masyarakat. Selanjutnya, Hempri menilai bahwa terkadang masyarakat sangatlah pragmatis dengan memilih melakukan sesuatu yang lebih praktis.

“Kemudian juga politik uang itu cukup menyulitkan ya. Banyak konspirasi dan kongkalikong antara pengusaha dengan penguasa sehingga pemerintah terkadang tidak tegas terhadap keberadaan toko modern itu,” ucap Hempri.

Melihat fenomena ini, Hempri yang sejak awal sudah berfokus pada isu kemiskinan dan pembangunan masyarakat beranggapan bahwa ideologi keberpihakan pada masyarakat miskin memang harus dibangun sejak dini. Untuk mahasiswa, Hempri berpesan untuk terus mengembangkan kesadaran dan sensitivitas terhadap isu sosial politik.

“Gerakan-gerakan dan organisasi mahasiswa juga diharapkan bisa lebih memperhatikan mengenai isu-isu ekonomi kerakyatan itu ya,” kata Hempri. (hsn)