Terhubung dengan kami
Purwo Santoso, Mengagumi Sosok yang Peduli dan Menginspirasi

Untuk mengobati kerinduan alumni maupun civitas akademika kepada sosok-sosok dosen senior Fisipol UGM, kali ini kami berkesempatan untuk bertemu dengan salah seorang sosok yang dirindukan tersebut. Ialah Prof. Drs. Purwo Santoso, M.A., Ph.D.,seorang guru besar dari Departemen Ilmu Politik dan Pemerintahan yang dikenal sebagai pribadi ramah dan humanis. Dikenal dengan panggilan Pak Purwo, kontribusinya sebagai seorang akademisi bagi dunia kelimuan sangat luar biasa.

Berkuliah ilmu politik dan pemerintahan bukanlah pilihan pertama Purwo. Menekuni dunia politik, bukan berati dari awal ingin menjadi seorang politisi ataupun birokrat. Sejak awal, ia bercita-cita menjadi seorang guru, bahkan ia pernah mencoba mendaftarkan diri sebagai guru matematika. Namun setelah menyelesaikan skripsinya, Purwo memutuskan untuk menjadi seorang dosen dan mengikuti seleksi.Kiprahnya didunia pendidikan pun semakin berkembang, baik di dalam maupun luar negeri.

Mantan Rektor UGM, Koesnadi Hardjasoemantri, menjadi sosok yang sangat menginspirasi Purwo. Menurutnya, Koesnadi sangat menghayati apa yang dipelajarinyaApa yang diyakininya sebagai kebenaran akan dilakukan. Kekaguman Purwo terhadap sosok Koesnadidisampaikan dengan berbagai cerita inspiratif yang kemudian menginspirasi Purwo selama ini. Sosok Koesnadi sangat peduli dengan mahasiswanya.Ia mendisiplinkan mahasiswa dengan fair dan pada saat yang sama jugaada di belakang mahasiswa.Purwo juga mengagumi inovasi sosial yang dilakukan oleh Koesnadi. Purwo selalu berusaha untuk meneruskan apa yang Pak Koesnadi lakukan dengan caranya sendiri. Ia mengaku, desain rumah yang ia miliki juga terinspirasi dari Koesnadi. Purwo menyediakan tempat yang nyaman di bagian depan dan belakang  rumah untuk berdiskusi dengan mahasiswa ataupun rekan-rekannya.

Sebagai seorang dosen, Purwo memiliki harapan untuk mahasiswa-mahasiswanya. Ia berharap mahasiswa tidak pernah berhenti untuk berani berargumentasi. Menurutnya, untuk berani berargumentasi, mahasiswa harus menguasai metodologi. Ekspektasi tersebut melatarbelakangi Purwo mengawal adanya perombakan struktur mata kuliah ketika menjadi wakil dekan di masa jabatan Mochtar Mas’oed. Salah satunya mengkaji struktur mata kuliah sehingga menjadikan mata kuliah yangdulunya disajikan oleh dosen-dosen fakultas lain disederhanakan menjadi mata kuliah Ilmu Sosial Dasar, yang berisi filsafat ilmu. Harapannya, dengan dibekali filsafat ilmu, klaim kebenaran sudah dimengerti dan dikuasai sejak awal berkuliah.

Dengan begitu, mahasiswa dapat berargumentasi dengan akal sehatnya dan tidak picik ketika menguraikan penjelasan. Ketika terdapat perbedaan pendapat dengan orang lain pun, mahasiswa tahu hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan metodologi. Sekaligus pada saat yang bersamaan, mahasiswa dapat mengetahui kelemahan metodologi yang orang lain sampaikan.

Mendapatkan gelar doktor di University of London dengan mengikuti program doctor by research menjadi preferensi Purwo untuk mengharapkan mahasiswa dapat berargumentasi diikuti dasar pengetahuan. Baginya, standar kesarjanaan dapat dilihat dari kompetensi berargumen, judgement dengan akal sehat, dan kearifan yang dimiliki.

Purwo kini diberi amanah untuk memimpin Universitas Nahdlatul Ulama. Kepada Warta Alumni, ia menjelaskan, “Tidak ada pemimpin baik yang berlaku tunggal, pemimpin yang baik itu tergantung konteks ia memimpin. Purwo menambahkan, kepemimpinan yang baik akan konsisten dengan tradisi dan situasi yang dipimpin.  “Kepemimpinan bagi saya manifestasinya bisa bermacam-macam dan kepemimpinan itu tidak harus ada tubuhnya.Kalau ada tubuhnya, cara kerjanya tidak harus diatur oleh logika birokrasi,” tutupnya.