Terhubung dengan kami
Tutik Rachmawati, Cerdas dan Bijak dalam Menggunakan Media

Dalam profesi saya sebagai pengajar, peneliti dan kepala sebuah program studi di perguruan tinggi, media sosial banyak membantu saya menyelesaikan pekerjaan dan meningkatkan produktivitas saya sebagai pengajar dan peneliti. Melalui media sosial, saya menemukan banyak informasi penting terkait dunia akademik, perkembangan isu-isu dan diskusi-diskusi terbaru dalam ilmu yang saya tekuni. Selain itu, saya dengan mudah mendapatkan informasi tentang konferensi, judul dan topik terbaru di jurnal-jurnal internasional sebagai ide-ide penelitian, artikel-artikel menarik untuk materi pengajaran, informasi-informasi tentang kursus secara online tidak berbayar yang diselenggarakan oleh banyak organisasi-organisasi hebat, beasiswa, fellowship, ataupun kompetisi pendanaan penelitian (research grant competition) yang dapat saya manfaatkan untuk diri sendiri maupun saya rekomendasikan kepada mahasiswa maupun kolega-kolega saya di program studi.  Dengan media sosial, saya dapat mengikuti perkembangan alumni-alumni program studi yang saya pimpin dan dengan cepat menghubungi mereka ketika saya membutuhkan resource (sumber daya) yang mereka punya. Hal-hal tersebut menurut saya adalah langkah cerdas memanfaatkan media sosial.

Penggunaan media sosial yang tidak cerdas adalah ketika pemanfaatan media sosial sebagai sarana untuk mengumbar emosi (terutama emosi-emosi negatif) ataupun membagi berita-berita tanpa sumber yang jelas (hoax) yang bersifat memfitnah dan menyinggung suku agama dan sara. Meskipun banyak pengguna sosial media berpendapat bahwa media sosial merupakan milik  pribadi, dan karenanya pengunaannya adalah sepenuhnya hak pemilik media sosial tersebut, namun mengunggah hal-hal yang sifatnya pribadi sebaiknya dibatasi. Interaksi personal (yang dapat juga difasilitasi oleh teknologi informasi melalui e-mail atau short message service/sms atau Whatsapp chat yang tidak bersifat publik) lebih bermakna dalam relasi dengan teman atau keluarga dibandingkan sosial media lain yang bersifat publik. Perlu diingat selalu, your social media account is a reflection of who you are, you are what you share, and you are what you ‘like’.  

(Tutik Rachmawati, Ph.D, Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Publik, FISIP, UNIKA Parahyangan Bandung; Alumni Prodi Ilmu Administrasi Negara FISIPOL UGM Angkatan 1995).