Terhubung dengan kami
Mengenal Lebih Dekat Sang Doktor Jurnalistik

Warta Alumni kali ini berkesempatan untuk mewawancarai Dr. Phil. Ana Nadhya Abrar, MES, seorang dosen Ilmu Komunikasi UGM. Bang Abrar, begitulah ia kerap disapa di kampus. Setelah pagi hari kami meminta izin untuk wawancara, tidak perlu menunggu waktu lama, siang hari itu juga ia berkenan untuk diwawancara. Sebagai dosen senior di bidang media dan jurnalisme, kepada tim Warta Alumni ia bercerita mengenai pengalamannya di dunia jurnalistik.

Ketertarikannya terhadap dunia jurnalistik dimulai ketika Abrar mengikuti sebuah Pelatihan Dasar Jurnalistik PWI di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia menjadi peserta terbaik saat itu hingga kemudian sang instruktur menyarankan Abrar untuk menimba ilmu di Jurusan Publisistik UGM. Abrar sempat kecewa karena saat itu belum ada mata kuliah di Jurusan Publisistik yang mendidiknya untuk menjadi penulis berita. “Saya harus cari jalan lain. Terus saya tanya ke Bang Hadi (Ashadi Siregar, pengajar Publisistik saat itu,-red), kalau ingin jadi penulis berita syaratnya apa?” paparnya.

Dari Ashadi Siregar, ia diberitahu bahwa syarat untuk menjadi jurnalis itu antara lain logika yang bersih, bahasa yang bagus, dan keterampilan jurnalistik. Mengetahui hal tersebut, Abrar yang haus akan ilmu jurnalisme terdorong untuk terus belajar. Tidak terbatas di Fisipol UGM saja, ia juga belajar di Fakultas Filsafat, Fakultas Sastra bahkan hingga Universitas Brawijaya dan di Semarang.

Keinginan Abrar untuk semakin mendalami dunia jurnalistik membawanya untuk menjadi seorang wartawan pada sebuah tabloid politik bernama Eksponen pada tahun 1982. “Tabloid Eksponen itu tabloid politik, sangat berani dia dulu. Berani ngritik Suharto, padahal pada zaman itu sangat berkuasa,” jelasnya. Bersama teman-temannya, Abrar kemudian  mendirikan pers mahasiswa Sintesa dan Balairung. Dengan prestasi-prestasinya, ia juga didaulat sebagai Mahasiswa Teladan UGM.

Setamat S1 di UGM, Abrar melanjutkan studi S2 di Kanada dan S3 di Kuala Lumpur, Malaysia. Sebagai satu-satunya doktor bidang jurnalistik di UGM, Abrar menyayangkan banyaknya mahasiswa yang kurang serius dalam mempelajari jurnalistik. Padahal, mata kuliah jurnalistik sudah disajikan.

Ketika menjadi jurnalis, banyak pengalaman menarik yang dialami oleh Abrar. Baginya, kesulitan menjadi seorang jurnalis waktu itu adalah pengumpulan fakta. Misalnya, mencari narasumber yang mau berbicara apa adanya. Ia pernah mendapati seorang narasumber yang berani blak-blakan berbicara mengenai ketidaksukaannya dengan Suharto dan sangat mengagungkan Sri Sultan HB X.

Abrarpun mengungkapkan sosok inspiratifnya yang juga alumni UGM, yakniT. Jacob serta Koesnadi Hardjasoemantri. Dari keduanya, Abrar selalu ingat untuk selalu mengawali menulis dengan membuat daftar isi terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan elaborasi. Hal ini juga membantunya dalam menulis buku. Biasanya satu buku dapat diselesaikannya dalam kurun waktu tiga bulan. Kini Abrar sedang menyelesaikan bukunya mengenai etika jurnalisme.

Anjangsana kali ini juga mengungkap fakta unik tentang Abrar. Ya, faktanya, Abrar selalu membawa sebuah note kecil disakunya. Ia menjelaskan bahwa note kecil tersebut memang selalu dibawanya dan berfungsi untuk mencatat segala hal yang menurutnya menarik. Note kecil tersebut juga berguna untuk membantu Abrar mengingat hal-hal penting. “Saya bawa ini (note kecil, -red), apa yang saya temui saya catat jadi saya ingat,”paparnya sambil memperlihatkan note kecil yang masih baru kepada kami.

Pada akhir sesi wawancara, Abrar berpesan kepada alumni untuk selalu menjaga integritas diri dan almamaternya. Kepada tim Warta Alumni pun beliau berpesan untuk terus memberikan informasi-informasi terbaru tentang perkembangan Fisipol UGM kepada alumninya yang telah tersebar di berbagai wilayah di Indonesia maupun mancanegara.