Terhubung dengan kami
Adventurous Ala Seorang Diplomat

Menghadiri ratusan meeting setiap tahunnya di wilayah ASEAN menjadi agenda rutin yang dilakukan oleh Gatot Hari Gunawan, seorang diplomat alumni Jurusan Hubungan Internasional UGM 1995. Sejak 2016 ia diberi amanah untuk menjadi Deputy Director pada Directorate of ASEAN Socio-Cultural Cooperation. Gatot pun harus selalu siap untuk bertugas kemanapun, dimanapun, dan kapanpun. Tak jarang, ia mendapat tugas dadakan untuk pergi ke luar kota ataupun ke luar negeri.

Tingginya mobilitas membuat Gatot menjadi semakin adventurous. “Ada yang mikir, enak ya jalan-jalan terus.Padahal enggak jarang hanya datang dan tahu hotel dan tempat meeting-nya aja karena pulang malam dan pagi harus sudah bikin report. Tapi tetap menarik, adventure. Yah, dinikmati aja, paparnya.

Kiprahnya di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dimulai sejak tahun 2000. Seperti sebagian besar lulusan jurusan Hubungan Internasional yang memiliki minat untuk bekerja di Kemlu, Gatot yang baru saja lulus kuliah mengambil kesempatan untuk mendaftarkan dirinya. Dengan usaha dan semangatnya, Gatot sukses melewati serangkaian proses rekrutmen yang harus dilewati oleh setiap calon pegawai Kemlu.

Gatot mengawali karier di Kemlu pada divisi Kerjasama Eksternal ASEAN yang memiliki tanggung jawab dalam mengurus ASEAN Plus, dimana saat itu Indonesia didaulat sebagai Ketua ASEAN. Berbagai pengalaman berharga telah didapatkan Gatot pada tahun-tahun awal kiprahnya di Kemlu.Tidak hanya gigih dalam berkarier, Gatot juga memiliki keinginan untuk melanjutkan studi yang lebih tinggi. Keinginan tersebut kemudian ia wujudkan dengan mengambil kuliah master di University of Tsukuba pada tahun 2004 hingga 2005.

Setelah menyelesaikan studi masternya, Gatot kembali ke tanah air dan tidak lama sejak kepulangannya ke Indonesia ia ditugaskan ke Osaka pada tahun 2006 hingga 2009. “Karena dianggap tahu banyak soal Jepang, saya ditugaskan untuk kembali lagi ke Osaka mengurus Rusia,” terangnya.Gatot menambahkan bahwa dulunya ia tidak pernah tertarik untuk belajar Jepang. Semasa kuliah pun ia mengambil kursus bahasa Spanyol. Pada masa awal pendidikan diplomat pertamanya pun ia mendapat pelatihan bahasa Jerman, yang membuat ia sempat memiliki keinginan untuk kuliah di Jerman.

Sekembalinya Gatot dari penugasan di Osaka, ia kemudian diamanahkan untuk memegang ASEAN di Jepang selama dua tahun. Baginya, bekerja di Kemlu memang harus siap dengan mobilitas tinggi, dengan segala isu-isu diplomatis yang merebak. Ia harus bersiap dengan segala perubahan yang ada, terlebih ketika situasi politik sedang tidak menentu. Bergelut dengan berbagai macam isu antarnegara membuat ia harus selalu me-refresh lagi pikirannya dan bagi Gatot mengambil studi adalah salah satu caranya. Akhirnya pada tahun 2012 hingga 2016 ia mengambil studi doktor di Jepang pada universitas yang sama, University of Tsukuba.

Sejak tahun 2002 Gatot sudah ditugaskan pada Kerjasama Eksternal ASEAN khususnya kerjasama iptek, lingkungan hidup dan penanggulangan bencana. Kerjasama Eksternal ASEAN sendiri memiliki 12 isu, mulai dari iptek, lingkungan hidup, penanggulangan bencana, migran workers, pelindungan anak, pemuda dan olahraga, kebudayaan, pendidikan, pencegahan penggunaan narkotika, kesehatan dan pembangunan sosial. Isu terbesar yang dipegang salah satunya mengenai Asap Lintas Batas pada tahun 2015 dimana di Indonesia terjadi kebakaran hutan dan asapnya sampai ke Singapura dan Malaysia, isu tersebut menjadi isu regional.

Menurutnya, secara umum dunia kuliah dan dunia kerja tetap berbeda walaupun keilmuannya sama. Jika di kampus belajar teori, di lapangan harus mampu mengambil keputusan yang tidak hanya berdasarkan teori tetapi juga lebih ke hal-hal praktis. Kemampuan dalam berbahasa asing juga sangat penting. Selain meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, keterampilan bahasa asing kedua juga harus dimiliki karena persaingannya juga sangat tinggi. Akan menjadi nilai tambah jika mampu menguasai lebih dari dua bahasa asing.

“Nikmatilah masa kuliah, karena dunia kerja itu beda banget dan kuliah itu menyenangkan sekali. Kuliah bisa bikin kita refresh,” pungkasnya.