Terhubung dengan kami
Anjangsana, Susetiawan

Belajar dari Perguruan

 Siang itu Tim Warta Alumni Fisipol UGM berkesempatan mewawancarai seorang guru besar dari Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK), yaitu Prof. Dr. Susetiawan, SU, atau yang biasa dipanggil Prof. Sus. Sempat berganti jadwal wawancara ditengah kesibukannya, Prof. Sus dengan ramah tetap menyambut kami untuk berbagi cerita. Pria yang lulus SMA pada tahun 1972 ini pada masa mudanya ternyata sempat mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Hukum. “Pada waktu itu masih ada tes umum dan ada tes khusus. Kira-kira bisa memilih dua atau tiga mata kuliah. Saya lupa,” ungkapnya sambil mencoba mengingat. Berhasil lolos di tahapan umum,  Susetiawan muda justru pesimis untuk bisa diterima tes khusus di Jurusan Ekomoni ataupun Hukum Universitas Gadjah Mada. “Saya di Ekonomi egga yakin diterima karena saya sudah terlambat masuk tesnya, kehujanan, naik sepeda, jauh lagi,” cerita Ketua Senat Fisipol UGM periode ini.

 

Sempat kecewa dan frustasi karena menerima form dari UGM yang pada waktu itu menanyakan bisa menyumbang berapa atau “wani piro?” Susetiawan muda, memutuskan untuk tidak sekolah selama dua tahun. “Entah waktu itu saya isi sembarangan atau saya buang waktu itu.Saya lupa,” ujarnya. Selama itu, Susetiawan muda bekerja ikut kontraktor di Tulungagung yang memasukkan tebu rakyat ke pabrik. “Setelah itu tahun 1976 saya kembali lagi ke Jogja dan mencoba mendaftar lagi ke UGM di Jurusan Sosiatri,” lanjutnya.Saat ditanya bagaimana bisa kenal dengan Sosiatri, Dosen yang masa kecilnya suka dengan bulutangkis itu bercerita, “awalnya sederhana saja, ada temen yang sudah kuliah duluan disitu,dia bercerita bahwa Ilmu Sosiatri mempelajari penyakit-penyakit sosial.”Ia pun kembali mengejar dengan rasa ingin tahunya, “Penyakit sosial itu apa?” temannya pun menjawab kayak pelacuran, narkoba, kayak kayak gitu, jelasnya. “Dia tidak menceritakan persoalan development, itu yang dia ceritakan. Tak nyoba ah,daftar disitu. Dan akhirnya diterima,” cerita Susetiawan dengan bersemangat.

 

Susetiawan muda lulus dari UGM pada tahun 1981. “Setelah lulus, saya ditawari untuk menjadi dosen di Jurusan Sosiatri sembari melanjutkan studi jenjang S2. Pada waktu itu jumlah dosen di jurusan ini masih sedikit, jadi saya ambil kesempatan ini.”Tak puas dengan itu, Susetiawan pada tahun 1992-1994 pergi ke Jerman untuk kembali sekolah. Menyoal pandangan Prof. Sus tentang Sosiatri UGM, dari tahun ke tahun mahasiswa yang berkuliah di jurusan ini berasal dari orang tua yang berprofesi sebagai petani atau guru. Namun, dalam perkembangannya, mulai lebih variatif. Tak hanya petani dan guru, melainkan dari kalangan pengusaha dan pegawai negeri. “Saya juga tidak mengerti mengapa bisa lebih variatif, apakah karena ada embel-embel Social Development atau apa, entahlah,” pungkasnya.

 

 

Sosok inspiratif bagi Prof. Sus di bidang sosiatri, justru terinspirasi dari Prof. Mr. Hardjono. Beliau adalah sosok yang menjadi tonggak awal Jurusan Sosiatri dan mendorong perkembangannya hingga sekarang ini. Menurutnya, beliau sangat menghargai nilai-nilai kearifan lokal. Pak Hardjono pernah mengatakan bahwa sejauh apapun kamu belajar, sebanyak apapun ilmu dari luar, nilai-nilai lokal bangsa sendiri tidak boleh dilupakan, apalagi dibiarkan tergerus pengaruh dari luar.

   

Prof. Mr. Hardjono juga sosok yang sangat sederhana. Beliau terbiasa menggunakan sepeda dan mengenakan topi caping ketika berangkat ke kampus. Seringkali orang-orang mengira beliau ialah tukang kebun. Pak Hardjono juga orang yang sangat mencintai perguruan.

   

Saat ditanya tentang aktivitasnya untuk mengisi waktu luang, Prof. Sus lebih suka dengan olahraga. “Saya gemar bermain tenis meja yang saya lakukan setidaknya seminggu sekali. Dulu waktu kecil saya gemar bulutangkis, tapi sekarang kaki sudah tidak kuat. Biasanya, dua hari sekali saya juga berolahraga lari kalau jadwal mengajar saya agak siang, menempuh jarak kira-kira 4 kilometer. Kalau tidak sempat, ya olahraga pakai treadmill saja,” kelakarnya. Selain itu hal menarik lainnya dari Prof. Sus adalah mobil sedan kuningnya yang biasa parkir di depan FO (Front Office) lama.“Jadi, mobil itu keluaran tahun 1973. Saya membelinya pada tahun 1995 atau 1996 seharga 6 juta rupiah pada masa itu. Selain olahraga, saya juga gemar mengutak-atik mesin kendaraan. Saya berpikir, daripada saya jual mobilnya, lebih baik saya utak-atik untuk mengisi waktu senggang. Mobil itu sudah saya bawa hingga Semarang, mulai dari Jogja, Purwodadi, Pati, kemudian Kudus, lalu Demak, dan Semarang. Baru setelah itu kembali lagi ke Jogja. Walaupun menempuh jarak yang jauh, tapi mobil itu masih kuat”terangnya sambil tertawa.

 

Sebagai penutup, Prof. Sus berpesan untuk para Alumni Fisipol UGM, cintailah perguruan. Kemanapun Anda pergi, jangan lupakan perguruan, karena besar atau kecil kontribusi perguruan, pasti berpengaruh pada hidupmu. Perguruan memberikan kontribusi pendidikan bagimu. Jangan lupakan keluarga juga, karena keluarga adalah basis pendidikanmu. Intinya, jangan lupakan perguruan dan keluarga, yang berkontribusi memberikan pendidikan untukmu.Jangan lupakan yang lama, karena yang baru itu hadir karena yang lama. (Pandu/Koko)