Terhubung dengan kami
Fuji Riang Prastowo, Tertarik Kajian Diaspora Jawa-Suriname

Mendapat Letter of Acceptance (LoA) untuk melanjutkan studi doktoral (S3) satu hari setelah diwisuda merupakan sebuah prestasi. Adalah Fuji Riang Prastowo, alumni Departemen Sosiologi Fisipol UGM angkatan 2008 yang berkesempatan menyelesaikan program master Anthropology and Development di salah satu universitas terkemuka di Belanda. Tidak hanya itu, Fuji juga sudah mengantongi tiket untuk melanjutkan studi post-doctoral di universitas yang sama.

Ketertarikannya untuk mempelajari kehidupan manusia memuluskan langkah Fuji untuk meneliti lebih jauh tentang masyarakat diaspora Jawa-Suriname di Belanda. Penelitian ini dimulai dari kekagumannya pada gaya komunal orang Jawa di negeri kincir angin. Seperti yang kita ketahui, banyak orang Jawa yang sudah lama tinggal di Belanda dan Suriname sejak masa kolonial dan sekarang menjadi diaspora Jawa disana. Memiliki kesamaan budaya yaitu Jawa, memberikan kemudahan akses bagi Fuji dalam mendalami penelitiannya.

Penelitian tentang diaspora Jawa ini mengantarkan Fuji untuk meraih gelar master di Radbound University Nijmegen, Belanda. Menjadi menarik ketika penelitian ini tidak hanya selesai pada perolehan gelar saja. Seperti yang diakui Fuji, “Aku enggak cuma meneliti mereka tetapi juga aku doing something ke mereka (masyarakat diaspora Jawa, -red)”. Ia melakukan sesuatu yang sangat berharga bagi masyarakat diaspora Jawa-Suriname, yaitu mempertemukan satu keluarga yang telah berpisah selama 85 tahun (1930-2015).

Fuji dianggap sebagai pahlawan oleh masyarakat diaspora Jawa-Suriname di usianya yang masih 25 tahun. Dengan perjuangan mencari data dan memaksimalkan jejaring dunia maya, dalam waktu 9 jam Fuji berhasil mempertemukan keduanya. Reuni keluarga yang sudah lama terpisah ini sempat dimuat di CNN Indonesia edisi 5 April 2015 (http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150405034338-20-44223/cerita-soal-reuni-langka-keluarga-suriname-jawa/).

Setelah kejadian itu, Fuji merasa yakin bahwa apa yang sedang ia geluti adalah yang terbaik. “I’m on my way,” ungkap Fuji yang menegaskan bahwa ia telah menemukan attachment emotionalbersama masyarakat diaspora Jawa-Suriname. Hingga sekarang, Fuji masih berusaha untuk mempertemukan 5 keluarga yang sudah lama terpisah.

Tidak menganggap mereka sebagai objek penelitian, begitulah yang dirasa oleh Fuji. Sampai hari ini Fuji masih terus berupaya mengembangkan kedekatan emosionalnya tersebut dengan mengupayakan banyak hal. Aktif mempersiapkan sebuah event pertemuan diaspora Jawa dunia di Yogyakarta adalah salah satunya. Selain itu, Fuji bertekad untuk bisa mengantarkan kajian diaspora Jawa-Suriname ke Oxford Diaspora Institute.

Kajian diaspora Jawa-Suriname yang masih sangat luas dan perlu diteliti lebih jauh adalah salah satu modal untuk Fuji melanjutkan studi doktoralnya. Seperti yang diungkapkan Fuji bahwa data penelitian tugas akhir studi masternya masih harus dikembangkan lagi dan sangat disayangkan jika tidak dikembangkan untuk penelitian studi doktoralnya.

Di lain sisi, keinginan Fuji untuk mempelajari lebih jauh kehidupan masyarakat diaspora Jawa-Suriname juga diikutsertakan dengan keinginan menyebarluaskan ilmu yang sudah ia pelajari. Fuji pun tak menyangkal bahwa kelak ia akan berlabuh menjadi seorang akademisi untuk memberikan pengalaman serta ilmunya dan terlebih lagi menularkan semangatnya untuk menjaga kearifan budaya Indonesia khususnya budaya Jawa. (Taufiq)