Terhubung dengan kami
Alia Swastika, Kurator Bercara Pikir Sosial Politik

Alia Swastika, seorang kurator ini namanya sudah banyak dikenal di kalangan pecinta seni di Jogja bahkan beberapa negara di dunia. Ia tercatat sebagai alumni Ilmu Komunikasi Fisipol UGM angkatan 1998 dan menyelesaikan studinya pada tahun 2002. Siapa yang menyangka keahliannya sebagai kurator ia dapatkan dari pengalaman dan kedekatannya dengan kehidupan para seniman. Ketertarikannya dengan dunia seni sudah dimulai sejak duduk di bangku SMA. Sebagai kurator, Alia pernah menangani pengurasian beberapa pameran solo seniman Indonesia yaitu Eko Nugroho, Jompet Kuswidananto, Tintin Wulia, dan Wimo Ambala Bayang. Alia juga pernah melakukan kurasi pada beberapa event di luar negeri seperti di Amsterdam, Shanghai, Singapura, Australia, dan Korea.

Semasa kuliah Alia juga tergolong aktivis kampus. Keikutsertaannya di berbagai organisasi, mulai dari himpunan mahasiswa jurusan, lembaga pers, hingga organisasi politik kampus adalah buktinya. Tak jarang pula ia ikut serta dalam aksi demonstrasi pada masa itu. Sebagai mahasiswi yang sangat aktif pada masa itu, tak jarang Alia meninggalkan kelas perkuliahan demi kegiatan lainnya. Alia mengaku, ia lebih banyak mencari ilmu di luar kelas karena kondisi perkuliahan yang tidak terlalu kondusif pada saat itu.

Mendapat tugas melakukan liputan di bidang sosial budaya semasa aktif di Bulaksumur Pos menjadikan Alia lebih dekat dengan bidang seni. Hal ini menjadi awal dimana Alia mulai bertemu dengan para seniman dan menjalin network. “Aku enggak kepikir bahwa itu (seni, -red) akan jadi karier, dan itu bukan menjadi suatu yang direncanakan,” jelas Alia yang menegaskan bahwa apa yang ia jalani terhadap dunia yang ia sukai akan memberikan pengalaman yang positif dan mempengaruhi karier kedepannya.

Dari kedekatannya dengan para seniman yang dilanjutkan dengan seringnya Alia ikut nongkrong bersama mereka,sedikit banyak Alia mendapatkan ilmu dari mereka. Hal inilah yang turut mengantarkan Alia menuju dunia seni yang sebenarnya.

Alia juga tak memungkiri keinginan untuk menggeluti bidang akademik, yaitu menjadi seorang peneliti atau penulis. Pernah menjadi seorang editor di Yayasan Cemeti, pernah pula terlibat dalam tim penyusun proposal pengajuan cultural studies Sekolah Pascasarjana UGM dibawah Pusat Studi Kebudayaan. Kariernya di bidang akademik terhenti karena ketidakjelasan izin yang dikeluarkan Dikti untuk cultural studies UGM.  Akhirnya, Alia kembali ke dunia seni dan bergabung dengan Cemeti Art House sebagai Manajer Artistik.

Setelah beberapa bulan menjalankan fungsi sebagai manajer artistik, Alia sadar bahwa fungsi yang ia jalani sudah lebih dari itu dan ia pun mulai giat menekuni dunia kuratorial.. “Orang kalo mau belajar jadi kurator, ya belajar sendiri,” ungkap Alia yang menemukan tantangan di awal menjadi curator. Alia mengakui bahwa ia sering belajar dari para seniman dengan banyak berdiskusi dan nongkrong di galeripara seniman. “Selain enggak ada kuliahnya, juga tak banyak teori terkait kuratorial pada masa itu. Baru beberapa tahun belakangan ini ada sekolah untuk para kurator di ITB.” lanjut Alia.

Selama menjadi kurator dan sering bersinggungan dengan pemerintah, Alia menyayangkan belum adanya keseriusan dari pemerintah untuk mengembangkan kesenian sebagai diplomasi budaya. “Harus dipikirkan lagi sebenarnya, sistem birokrasi yang kita kerjakan cocok enggak sih,” jelas Alia yang menyampaikan masukannya kepada pemerintah. Menurut pengalamannya, banyak seniman yang ingin bekerja bersama pemerintah baru memiliki modal yang cukup untuk bisa menyukseskan karyanya.

Sebagai kurator yang juga alumni Fisipol UGM, Alia melihat sosial dan politik sebagai cara pikirnya. Pelajaran ketika ia menimba ilmu di bangku perkuliahan digunakan sebagai ajang membangun logika . Oleh karena itu, Alia bertekad,setiap karyanya memiliki fungsi sosial kepada orang lain. Niatnya adalah membentuk generasi baru dengan cara menjaga hubungan baik dengan universitas terutama almamaternya, yang juga merupakan salah satu bentuk melestarikan cara pikir ke-Fisipol-annya. (Taufiq)