Terhubung dengan kami
Sepuluh Alumni Fisipol di Dunia Perfilman Nasional

Alumni FIsipol tersebar di berbagai lini industri, salah satunya industri film. Berikut sepuluh alumni Fisipol UGM yang berkecimpung di dunia perfilman, dan memiliki prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional. 

 

1. Adrian Jonathan Pasaribu - Criticus (Ilmu Komunikasi 2006)

Adrian merupakan kritikus film sekaligus salah satu pendiri Cinema Poetica, situs yang mengkaji film di Indonesia. Dalam Cinema Poetica, sinema dibahas sebagai bagian dari pergumulan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sejarah.

 

2. Dirmawan Hatta – Writer, Director dan Producer (Ilmu Komunikasi 1994)

Hatta berhasil mendapatkan nominasi dari Festival Film Indonesia untuk skenario yang ditulisnya, yaitu pada film Bulan di Atas Kuburan (2015) dan May (2008). Selain itu, Hatta juga mendapatkan nominasi dari Deauville Asian Film Festival (2014), Pusan International Film Festival (2013), dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (2013). Hatta telah menyutradarai film Optatissimus (2013) yang menceritakan pengalaman spiritual Alex Tanuseputra, pendeta ternama dan pendiri Gereja Bethany Indonesia. 

 

 

3. Jason Iskandar– Short Film Writer dan Director (Sosiologi 2010)

 

Karir dalam dunia perfilman dimulai saat Jason menyutradarai film yang memenangkan kompetisi film Think-Act Change saat ia berusia 17 tahun. Jason telah berhasil menciptakan film-film yang meraih berbagai penghargaan skala nasional bahkan internasional. Film-film garapannya yakni Langit Masih Gemuruh (2015), Seserahan (2013), Tanya Jawab (2011), Sarung Petarung (2007), Territorial Pissings (2010), Indonesia Bukan Negara Islam (2009) dan Cheat Chat Bingo (2009) masuk dalam jajaran film berprestasi. Film-film garapannya juga meraih penghargaan dalam beberapa ajang perhargaan film, antara lain Anti-Corruption Film Festival tahun 2013 kategori Best Documentary Film 2013, dan Festival Film Indonesia tahun 2011 kategori Film Pendek Terbaik.

 

 

4. Lexy Junior Rambadeta – Director (Ilmu Komunikasi 1991)

Pendiri rumah produksi Offstream ini merupakan sutradara film dokumenter yang karyanya berhasil mendapatkan penghargaan di Festival FIlm Dokumenter, Jakarta International Film Festival, dan SET Award. Karyanya antara lain Sex, Lies, & Cigarettes (2011), Islam’s Deadly Divide (2011), World’s Toilet Crisis (2010), Faces of Everyday Corruption in Indonesia (2006), Youth On The Edge (2004), dan Bade Tan Reuda (Aceh’s Never ending Tragedy) (2003).

Sekarang Lexy mengerjakan film dokumenter untuk program-program televisi Eropa. 

 

5. Luhki Herwanayogi - Director (Ilmu Komunikasi 2007)

Yogi, begitu ia biasa dipanggil, berhasil menjadi pemenang dalam  XXI Short Film Festival Pitching Forum di tahun 2015. Pada tahun 2014, Yogi terpilih untuk mengikuti program Fellowship dari Busan Film Commission & Asian Film Commission Network dalam Film Leaders Incubator.

 

 

6. Muammar Bazargan – Producer (Ilmu Komunikasi 2001)

Mas Amar, begitu sapaan produser film yang terkenal dari filmnya berjudul Say Hello to Yellow (2011) dan Hujan Tak Jadi Datang (2009). Film-film tersebut berhasil meraih beberapa penghargaan dalam Festival Film Indonesia kategori Film Terbaik 2011, Apresiasi Film Indonesia 2012 dan Local Culture Film Festival (LOCFEST) 2013.

Saat ini Amar juga aktif dalam pembuatan film pendek dan menjadi sutradara dalam beberapa film nasional lainnya. Kecintaannya pada dunia film mengantarkan alumni mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi ini untuk terus berkarya dan menjadi sutradara yang membanggakan bangsa dengan prestasinya.

 

7. Sekar Sari- Actress (Hubungan Internasional 2007)   

Menjadi pemeran utama yang memerankan karakter Siti pada film Siti berhasil mengantarkan Sekar Sari mendapatkan penghargaan sebagai Best Performance dalam Singapore International Film Festival (SGIFF) 2014. Film Siti sendiri mendapatkan penghargaan sebagai Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2015. 

 

8. Tunggul Banjaransari — Director  (PSDK 2007) 

Melalui film OEN, Tunggul mendapatkan Special Mention Audience pada Asia Africa International Film Festival 2011. Tunggul juga meraih Best Jury Grand Prize pada Asia Africa International Film Festival 2010 untuk film The Tone. 

Sekarang Tunggul menetap di kota Solo dan mendirikan rumah produksi Satriyo. Film lain yang disutradarainya berjudul Udhar (2014) dan Liburan keluarga (2012). 

 

9. Wasisto DIbyo Widagdo - Producer (Ilmu Komunikasi 2001)

Direktur Jogja Netpac ASEAN Film Festival (JAFF) ini juga berprofesi sebagai produser. Salah satu film nasional yang pernah diproduserinya adalah film Republik Twitter. Selain itu, Ajish juga telah menjadi Line Producer pada film Talak 3 (2016), Ayat-Ayat Adinda (2015), Surga yang Tak Dirindukan (2015), Mencari Hilal (2015), Soekarno: Indonesia Merdeka (2013), dan Gending Sriwijaya (2013). 

 

 

10. Yosep Anggi Noen – Director (Ilmu Komunikasi 2001)

Lahir pada 15 Maret 1983, Yosep tumbuh menjadi pribadi yang sangat mencintai dunia perfilman. Alumni Ilmu Komunikasi 1994 ini membuktikan kecintaannya pada dunia film dengan menyutradarai beberapa film yang sukses menjadi nominasi dalam berbagai ajang pernghargaan film nasional. Film-film tersebut antara lain Love Story Not (2015), Rumah (2015), Vakansi yang Janggal dan Penyakit lainnya (2012), Working Girls (2011), serta Hujan Tak Jadi Datang (2009). Bahkan film garapannya yang berjudul A Lady Caddy Who Never Saw a Hole in berhasil memenangkan penghargaan dalam Pusan International Film Festival kategori Sonje Award pada tahun 2013.

 

Ayo dukung bibit-bibit pemuda kreatif negeri ini dengan mengapresiasi karyanya, dengan begitu bisa terus melahirkan banyak prestasi yang dapat membanggakan Bangsa Indonesia.

 

"Cintai film nasional dan jadilah raja di negeri sendiri"

 

(Mima)